bar-BAR
28 juli 2013

yah, perjalanan tahun orientasi rohani Keuskupan Agung Jakarta sudah aku lalui. walau seudah selesai, masih banyak nilai yang aku teruskan-semua proses berkelanjutan-. Sekarang saat mendalami filsafat di STF Driarkara, dan meneruskan perjalanan panggilan di Wisma Cempaka Putih Timur. Semoga apa yang aku usahakan menambah kemuliaan Tuhan. amin

,

Metro-tempel-kentu

Sebuah perjalanan untuk memerintah kaki agar terus berjalan

Ketika malam tiba

Sebelum memertintah

Aku mencoba

Mencoba utnuk cari kepastian

Apa semua itu pasti

Metro-tempel-kentu

Inilah saat aku memerintah kakiku

Ketika sore tiba

Sebelum gerbang

Menyerahkan dengan paksa

Menyerahkan segala bekalku

Apa ini kepasrahan untuk merubah

Metro-temple-kentu

Kaki sudah berjalan

Mahgrib mulai bersuala sebelum perut berontak

Diam kurasakan

Hatiku sungguh menikmati ini

Diam yang benar-benar menyejukan

Apa ini sebuah keheningan

Metro-tempel-kentu

Kaki menikmati hati

Hati tak bersuara

Perutpun berontak

Hati melawan perut

Perut menang, hati bergembira

Apa ini sebuah anugrah

Metro-tempel-kentu

Kaki mulai mengeluarkan pedang

Jalanan mulai sepi

Temple telah kulewati

Keputusan yang dicari

Dicari dari seseorang

Apa orang ini member keputusan yang tepat?

Metro-tempel-kentu

Pedang serasa mencabik urat kakiku

Jalan sepi, hati sunyi

Jalan berbelok, Gota-gati ku telusuri

Kaki paulus sudah ku pegang

Aku mulai menemukan, Menemukan sebuah hal yang pasti

Itulah kasih-MU yang kau berikan padaku

keindahan devosi di depan lubang jarum.

keindahan devosi di depan lubang jarum.

tar…

suatu ketika saya mau membuka situs porno di sebuah warnet, dan ternyata situs tersebut telah diblokir oleh Telkom Indonsesia.

Pemblokiran situs porno sebenarnya adalah solusi tepat untuk negara berkembang seperti indonesia. sebagai negara berkembang, salah satu masalah adalah perumbuhan penduduk. dengan diblokirnya situs porno maka pertumbuhan penduduk dapat ditekan, karena orang tidak terinspirasi untuk melakukan hubungan sex, khususnya pada generasi muda, sehingga pertumbuhan penduduk dapat berkurang.

liburan

minggu ini menjadi kesempatan bagagia, karena aku dapat menghabiskan minggu ini untuk liburan. hari pertama aku habiskan di rumah, untuk ketemu papa n mama. hari kedua langusng ke seminari lagi untuk persiapan orkes ke semarang. hari rabu konser dan langsung ke jakarta untuk njenguk ponakan yang lahir januari lalu…

liburan ini memang penuh warna, saat orkes ak menikmati betul kenikmatan untuk bermain musik, walau gerogi tanpo kendat, tapi itu adalah anugrah dalam diriku, bahwa aku bisa mengalami kegerogian dalam diriku. satu lagi yang tak lepas dari sebuah makna, yaitu pembaharuan janji imamat, aku melihat Uskup Puja memperbaharui janji para imamnya, dalam diriku ada ajakan “Apa aku nanti akan seperti mereka?” tentu saja hal itu memberikan semangat dalam diriku dalam menikmati jalan panggilan ini, ya menghayati panggilanku sebagai calon imam.

hari selanjutnya ak habiskan di rumah kakakku, ak mengenal bagaimana kehidupan berkeluarga, ternyata banyak juga tantangan (salib), mulai dari momong bayi, sampai mencari uang. itu semua mereka lakukan untuk sang buat hati mereka.

moment yang tak kalah penting adalah paskah. apa yang menjadi salibmu? misteri paskah menjadi berarti bagiku…

mana yang sebenarnya?

mana yang sebenarnya?

lega…

4 dan 5 ….

febuari

2011

\

menjadi hari bahagia bagiku, akhirnya ak bisa ngomong ke orang tua. panggilan, hidup, dan semuanya kubagikan kepada kedua orang tuakua, termasuk masa depanku.

"ma, ak mau lanjut jadi imam projo jakarta!"

saat bilang kalimat itu, hati ini terasa sangat lega, seperti terbang, apa lagi respon dari orang tua yang mendukungku untuk jadi imam. wah leganya diriku

rambut gondrong„,

beberapa bulan ini rambut gondrong menjadi isu panas di Seminari Menengah Mertoyudan… ada yang setuju dan tidak„, dan saya sebagai bidel kelas (Semester II) yang mengurusi hal itu. dan saat pleno aku pun di tannya “Bagaimana dengan nasib rambut gondong?” ak menjawab “Saya tidak akan mengurusi hal itu, dan tidak akan menyebar angket, karena di buku pedoman seminari mertoyudan sudah terpapar dengan jelas”

Sejarah penggilan


Awal Kehidupan (1993-1999)

            25 April 1993, menjadi hari kelahiranku setelah dikandung oleh Ibu Cecilia Sri Sulastri, dan dinanti oleh bapak Ignatius Djoko Soepeno. Aku menjadi anak ke empat dari lima bersaudara.  hal yang membuat aku kagum dengan papa ku, kerja keras dan semangat. Dan aku tinggal di rumah eyang, orang tua dan kakak tinggal di matesih karanganyar. Unsur budaya dan agama islam sangat kental dalam kehidupan kecilku. Saat TK aku masuk TK Aisyah, sebuah TK kecil dekat rumah, dan aku sering dinantar oleh Bulek Kusnani. Eyang pun mempengaruhi cita-citaku untuk menjadi pilot karena aku sering melihat pesawat bersama eyang kakung di bandara adi sumarmo. Hidup jauh dari orang tua mendorongku tinggal bersama mereka, orang tua akhirnya setuju agar aku melanjutkan sekolah di matesih. Bersekolah di sekolah baru (TK Bima) dan tempat tinggal yang baru. Setelah lulus TK aku melanjutkan ke SDN Matesih 1, Karanganyar. Aku menjalani kehidupanku sebagai anak desa, bukan berarti buruk, namun aku diajari untuk kreatif dan mandiri di tengah kesederhanaan. Desa yang aku tinggili tidak seburuk yang biasa anak kota bayangkan, desa ini merupakan desa yang lumayan maju dan sudah sedikit moderen. Baru kelas 2 SD (jika tidak salah) aku dibabtis di Gereja St. Antonius Purbayan. Aku dibabtis di Gerja St Antonius Purbayan karena setiap sabtu dan minggu aku menjenguk eyangku di solo dan tiap misa mingguan selalu di Purbayan.

Menjadi warga gereja katolik membuat gambaran baru dalam kehidupanku. Menjadi warga Gereja berarti harus ke gereja. Saat aku dibabtis keluarga ku sudah kebanyakaan beragama katholik. Sosok seorang imam mulai nampak dalam kehidupanku, Rm. Wiryo, SJ menjadi orang teladanku, karena walau beliau sudah tua dia tetap semangat dalam menjalani tugasnya menjadi pasor paroki. Satu imam lagi yang membuat aku kagum, yaitu imam di paroki karanganyar yang setia datang dari Paroki karanganyar ke Matesih untuk merayakan misa tiap hari Jumat. Rasa kagum terhadap sosok imam mendorang diriku ingin menjadi seorang imam. Hal tersebut mendorong diriku untuk berani bilang pada guruku SD (Bu Endang, Seorang muslim) , imam adalah cita-citaku. Saat kelas 5 SD, mbah kakung meninggal dunia.

           

SMP, duh enaknya….

            Saat mau ujian akhir di SD, Bu Endang bertanya kepada setiap murid, “Nanti setelah dari sini, mau lanjut kemana? Dan apa cita-citamu?” dan aku menjawab ingin melanjutkan di SMP Bintang Laut Solo dan bercita-cita sebagai imam. Tes masuk pun kujalani dua kali, dan keduanuya gagal karena nilai bahasa ingris yang kurang. Dan aku mendaftarkan di SMP Kanisius 1 solo, dan ternyata di tempat itu aku lebih menemukan apa yang aku cari, persahabatan, pertmanan dan dunia yang sebelumnya tidak aku ketahui.

            Kelas 1 smp menjadi proses mengenal dunia baru, kehidupan dari desa ke kota. Perpindahan keluarga dari desa ke kota. Mengenal lingkungan dan proses belajar yang baru, walau menjalai pendidikan di sekolah yang tidak terkenal pendidikannya, aku bangga denan sekolahku itu, karena sekolah ku dekat gereja Purbayan. Keinginan menjadi imam pun masih tergambar di benakku sampai sebelum tes kenaikan kelas, saat itu aku mengenal seorang wanita, dan mulailah kisah cinta monyet. Kelas 2 SMP, aku masuk dunia yang boleh dikatakan dunia gelapku, walau pada waktu itu aku masuk Areka di paroki Purbowardayan (diajak teman). Dan di kelas 2 Smp menjdi saat aku berpisah dengan Mas Ayok, karena di masuk Seminari Mertouyudan. Di SMP Kanisius ada sebuah kelompok yang menjadi seperti pelindung sekolah (seperti geng), dan aku pun mencoba masuk dalam kelomok tersebut, karena rasa pernasaranku terhadap dunia kota yang sebenarnya. Tawuran menjadi hal yang sedikit wajar, tapi aku hanya di permukaan, hanya kumpul-kumpul setelah sekolah yang kujalani bersama kumpulan tersebut. Kehidupan menggereja hanya menikuti areka. Sebenarnya saat  SD aku mengikuti misdinar di gereja purbayan, namun karena tidak sering di solo membuat aku menjadi anggota pasif. Setahun pun aku jalani, dan aku melanjutkan ke kelas 3. Kelas 3 SMP, kembali alim. Ya, ungkapan tersebut menjadi hal yang nyata dalam hidup, kerena fokus ujian akhir. Dan disaat itu aku mengenal Dewi, yang mampu membuat aku memandang dia secara lebih, bahkan disaat itu juga aku ditawar masuk seminari oleh mas ayok. Aku pun menjalani tes gelombang pertama untuk masuk seminari. Ternyata hasil tes pun mengatakan aku diterima masuk seminari setelah ujian sekolah, dan hal tersebut memudahkan ku untuk mencari sekolah baru, dan  memberi ingatan yang terlupakan. Yaitu dunia imamat yang telah terlupakan selama 1 serengah  tahun. Setelah ujian sekolah adalah proses persiapanku untuk masuk ke seminari, persiapan batin dan persiapan fisik. Hidup doa mulai kutingkatkan, karena aku berpikiran imam harus sering berdoa, misa harian dan ke gua maria. Kisah cinta monyet dengan dewi pun belum berakhir sampai aku berani memutuskan hubungan tersebut sehari sebelum aku masuk seminari, karena aku telah dikompor-kompori secara rohani oleh Mas Ayok yang kebetulan libur dan berkunjung ke rumah. Kehidupan di seminari pun siap aku janalani.

Dunia yang lebih baru, Seminari Mertoyudan

            13 Juli 2008, adalah hari pertama aku menjalaini kehidupan diseminari mertoyudan. Medan Pratama merupakan tahun awalku menjalani kehidupuan di Seminari. Awalnya aku beranggapan bahwa meninggalkan keluarga merupakan hal yang mudah, namun hal tersebut merupakan hal yang sulit, 1 minggu awal aku menanggis 7 kali, karena aku menyadari betapa tergantungnya aku dengan keluarga. Menjadi Jesuit, adalah cita-cita awalku, karena aku berasal dari paroki Jesuit, mulai mendalami dan bertanya-tanya pada kakak kelas. Aku mengenal proses belajar mengajar baru. Setahun kujalani, aku belum 100% mantab pada pilihan ku ini, karena orang tua yang belum benar-benar setuju. Proses tersebut aku jalanni di tahun awal. Aku sungguh kaget ketika aku naik ke medan tamtama, hal tersebut merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadaku untuk menjalani pilihan ini.

            Medan Tamtama, saat tahun ini aku sangat ingat denga perkataan Mas Ayok, “Jo macem-macem karo MT, kowe kudu tenanan”. Hal tersebut bukanlah sebuah ancaman bagiku, namun merupakan sebuah acuan untuk sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupanku di medan tamama. Di medan tamtama  ada acara mengenal LHB, dan saat pengenalan MSF akupun sedikit tersentil untuk mengenalnya lebih dalam, setelah mengenal aku tertarik deng MSF dan setelah Live In di novisiat MSF aku menemukan apa yang aku cari, yaitu misi. Pengalaman live in tersebut memberi sebuah cakrawala setelah satu tahun mengenal lewat buku-buku di perpustakaan Seminari Mertoyudan. Dan saat medan tamtama, Mama dan Papa mengungkapkan isi hati mereka bahwa mereka telah setuju dengan pilihan ku, dan setelah itu aku menjalani kehidupanku diseminari dengan lebih nyaman tanpa kepikiran keluagaku lagi. Di medan tamtama juga aku mengalami pencarian motifasi kembali, dan tentunya yang lebih mantab dan keluar dari hati ku. (suara hati suara Tuhan)

            Medan Madya, ini merupakan tahun yang seru. Karya tulis dan electio. Kedua hal tersebut. Di kelas 11 ini aku memilih jurusan ips, karena aku mersasa bahwa di ips (Ilmu Para Selibat, hehe…) aku akan lebih berkembang. Perjalan membuat karya tulis yang baru setengah memberi ku pelajaran untuk selalu setia dan kritis dalam kehidupan. Sekarang aku mempersiapkan diriku untuk election, memilih pilihan yang merupakn pilihan hidupku. Seperi angkatan Batu katakana, TOTAL DAN MERDEKA

ikan ternyata bisa terbang y?

ikan ternyata bisa terbang y?